Selasa, 09 Mei 2017

MAKALAH LAKTASI DAN MENYUSUI




TUGAS  MAKALAH LAKTASI DAN MENYUSUI


DI SUSUN OLEH:
Silvia Zaini         15211767


STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG
Tahun Akademik 2017












DAFTAR ISI

Halaman Judul……………………………………………………………………………………… i
Kata Pengantar…………………………………………………………………………………….. ii
Daftar Isi………………………………………………………………………………….………… iii
BAB I         PENDAHULUAN
1.    Latar Belakang……………………………………………………………………………….. 1
2.    Rumusan Masalah…………………………………………………………………..……….. 2
3.    Tujuan Penulisan………………………………………………………………………..……. 2
BAB II        TINJAUAN PUSTAKA
1.    Anatomi dan Fisiologi Payudara………………………………………………………….… 3
2.    Dukungan Bidan dalam Pemberian ASI………………………………………..…….……. 4
3.    Manfaat Pemberian ASI…………………………………………………………….……….. 7
4.    Komposisi Gizi dalam ASI…………………………………………………………………… 8
5.    Upaya Memparbanyak ASI…………………………………………………………………. 10
6.    Tanda Bayi Cukup ASI………………………………………………..…………………….. 10
7.    ASI Eksklusif……………………………………………………….…………………………. 11
8.    Cara Merawat Payudara…………………………………………………………………….. 11
9.    Cara Menyusui yang Benar…………………………………………………………..…….. 11
10.  Masalah…………………………………………………………………….………………… 12
BAB III       PENUTUP
1.    Kesimpulan………………………………………………………………….………………… 15
2.    Saran …………………………………………………………………….……………………. 15
Daftar Pustaka
















KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Dengan mengucap Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa saya dapat menyelesaikan makalah tentang “PROSES LAKTASI DAN MENYUSUI” ini dengan baik tanpa hambatan.
Kami  mengucapkan terimakasih banyak kepada para pembimbing dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas ini atas semua bantuan, bimbingan, dan kemudahan yang telah diberikan kepada kami dalam menyelesaikan makalah. Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan Tugas Mata Kuliah Nifas dan Menyusui.
Meskipun saya telah berusaha dengan segenap kemampuan, namun saya menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini yang selanjutnya akan kami terima dengan tangan terbuka.
Wa’alaikumsalam Wr.Wb



















BAB I
PENDAHULUAN

1.    Latar Belakang
Laktasi adalah keseluruhan proses menyusui mulai dari ASI diproduksi sampai proses bayi menghisap dan menelan ASI. Laktasi merupakan bagian integral dari siklus reproduksi mamalia termasuk manusia. Masa laktasi mempunyai tujuan meningkatkan pemberian ASI eklusif dan meneruskan pemberian ASI sampai anak umur 2 tahun secara baik dan benar serta anak mendapatkan kekebalan tubuh secara alami.Prinsip pemberian ASI harus sedini mungkin dan Eksklusif. Bayi baru lahir harus mendapat ASI dalam jangka waktu satu jam setelah lahir. Seorang ibu dikodratkan untuk dapat memberikan air  susunya kepada bayi yang telah dilahirkannya, dimana kodrat ini merupakan suatu tugas yang mulia bagi Ibu itu sendiri demi keselamatan bayi dikemudian hari. Tetapi pada suatu proses kelahiran, terutama bagi yang baru pertama kali melahirkan, kadang air susu Ibu tidak atau susah untuk keluar sehingga bayi tersebut sementara diberikan susu botol yang akan mengakibatkan bayi terbiasa menghisap dot, sehingga dapat mengalami bingung puting saat mulai meneteki. Reflleks pertama seorang bayi yang normal adalah mencari putting susu ibu berupa hisapan mulut bayi merupakan hal yang penting dalam proses produksi ASI.Sejak abad ke-19 para pakar telah sepakat bahwa ASI lebih unggul daripada susu sapi atau bahan pengganti lainnya.Sayangnya perilaku menyusui bayi sendiri dianggap sebagian orang suatu tingkah laku tradisional, sehingga sedikit demi sedikit ditinggalkan. Hal tersebut dipengaruhi oleh kemajuan di negara-negara industri yang memperkenalkan susu buatan untuk bayi yang mempunyai manfaat sama dengan ASI, pemakaiannya lebih praktis, dengan promosi pemasaran yang gencar.Oleh sebab itu Menteri Kesehatan Republik Indonesia melalui peraturan Nomor: 450/MENKES/SKIV/2004 mengajak bangsa Indonesia melaksanakan pemberian hanya ASI saja selama 6 bulan pertama kehidupan bayi dapat dilanjutkan sampai anak umur 2 tahun.
1.    Agar mahasiswa mengetahui anatomi dan fisiologi payudara
2.    Agarmahasiswa mengetahui dukungan apa yang harus dilakukan bidandalampemberianASI
3.    Agar mahhasiswa dapat mengetahui manfaat pemberian ASI
4.    Agar mahasiswa tahu komposisi gizi dalam ASI
5.    Agar mahasiswa mengetahui upaya apa saja yang dapat memperbannyak ASI
6.    Agar mahasiswa mengetahui tanda bayi cukup ASI
7.    Agar mahasiswa mengetahui pengertian ASI Eksklusif
8.    Agar mahasiswa mengetahui cara merawat payudara
9.    Agar mahasiswa mengetahui cara menyusui yang benar
10.  Agar mahasiswa mengetahui masalah


BAB II
TINJAUAN TEORI

1.    Anatomi Dan Fisiologi Payudara
Secara vertical payudara terletak diantara kosta II dan IV, secara Horisontal mulai dari pinggir sternum sampai linea aklaris medialis. Kelenjar susu berada dijaringan sub kutan, tepatnya diantara jaringan sub kutan superficial dan profundus, yang menutupi muskulus pectoralis mayor.
Ukuran normal 10-12 cm dengan berat pada wanita hamil adalah 200 gram, pada wanita hamil aterm 400-600 gram dan pada masa laktasi sekitar 600-800 gram. Bentuk dan ukuran payudara akan bervariasi menurut aktifitas fungsionalnya. Payudara menjadi saat hamil dan menyusui dan biasanya mengecil setelah menopause. Pembesaran ini terutama disebabkan oleh pertumbuhan struma jaringan penyangga dan penimbunan jaringan lemak.
Ada 3 bagian utama payudara, Korpus (badan), Areola, Papilla atau putting. Areola mamae (kalang payudara) letaknya mengelilingi putting susu dan berwarna kegelapan yang disebabkan oleh penipisan dan penimbunan pigmen pada kulitnya. Perubahan warna ini tergantung dari corak kulit dan adanya kehamilan. Pada wanita yang corak kulitnya kuning langsat akan berwarna jingga kemerahan, bila kulitnya kehitaman maka warnanya akan lebih gelap dan kemudian menetap.
Terletak setinggi interkosta IV, tetapi berhubung adanya variasi bentuk dan ukuran payudara maka letaknyapun akan bervariasi pula. Pada tempat ini terdapat lubang-lubang kecil yang merupakan muara dari duktus laktiferus, ujung-ujung serat otot polos yang tersusun seTara sirkuler sehingga bila ada kontraksi maka duktus laktiferus akan memadat dan menyebabkan putting susu ereksi, sedangkan serat-serat otot yang longitudinal akan menarik kembali putting susu tersebut.
Ada empat macam bentuk putting yaitu bentuk yang normal/umum, pendek/datar, panjang dan terbenam (inverted). Namun bentuk-bentuk putting initidak terlalu berpengaruh pada proses laktasi, yang penting adalah bahwa putting susu dan areola dapat ditarik sehingga membentuk tonjolan atau “dot” ke dalam mulut bayi. Kadang dapat terjadi putting tidak lentur terutama pada bentuk putting terbenam, sehingga butuh penanganan khusus agar bayi bisa menyusu dengan baik.
Struktur payudara terdiri dari tiga bagian, yaitu kulit, jaringan sub kutan (jaringan bawah kulit), dan corpus mamae. Corpus mamae terdiri daribparenkim dan stroma. Parenkim merupakan suatu struktur yang terdiri dari duktusLaktiferus (Duktus), Duktulus (Duktuli), Lobus dan Alveolus.
Ada 15-20 duktus laktiferus. Tiap-tiap duktus bercabang menjadi 20-40 duktuli. Duktulus bercabang 10-100 alveolus dan masing-masing dihubungkan dengan saluran air susu (system duktus) sehingga merupakan suatu pohon. Bila diikuti pohon tersebut dari akarnya pada putting susu akan didapatkan saluran air susu yang disebut duktus laktiferus.
 Didaerah kalang payudara duktus laktiferus ini melebar membentuk sinus laktiferus tempat penampungan air susu. Selanjutnya duktus laktiferus terus bercabang-cabang menjadi duktus dan duktulus, tapi duktulus yang perlahan selanjutnya disusun pada sekelompok alveoli. Didalam alveoli terdiri dari duktulus yang terbuka, sel sel kelenjar yang menghasilkan air susu dan mioepitelium yang berfungsi memeras air susu keluar dari alveoli.
1.    Dukungan Bidan Dalam Pemberian ASI
2.    Biarkan bayi bersama ibunya segera setelah dilahirkan selama beberapa jam pertama.
3.    Membina hubungan/ ikatan disamping pemberian ASI
4.    Memberikan rasa hangat dengan membaringkan dan menempelkan pada kulit ibunya dan menyelimutinya
Segera susui bayi maksimal setengah jam pertama setelah persalinan. Hal ini sangat penting apakah bayi akan mendapat cukup ASI atau tidak. Hal ini didasari oleh hormone pembuat ASI, antara lain hormone prolaktin dalam peredaran darah ibu akan menurun setelah satu jam persalinan yang disebabkan oleh lepasnya plasenta.
Sebagai upaya untuk tetap mempertahankan prolaktin, isapan bayi akan memberikan rangsangan pada hipofisis untuk mengeluarkan hormone oksitosin. Hormone oksitosis bekerja merangsang otot polos untuk memeras ASI yang ada pada alveoli, lobus serta duktus yang berisi ASI yang dikeluarkan melalui putting susu.
Apabila bayi tidak menghisap putting susu pada setengah jam setelah persalinan, hormone prolaktin akan turun dan sulit merangsan prolaktin sehingga ASI baru akan keluar pada hari ketiga atau lebih.
2.    Ajarkan cara merawat payudara yang sehat pada ibu untuk mencegah masalah umum yang timbul.
Perawatan yang dilakukan bertujuan untuk melancarkan sirkulasi darah dan mencegah tersumbatnya saluran susu sehingga pemperlancar pengeluaran ASI. Pelaksanaan perawatan payudara hendaknya dimulai sedini mungkin, yaitu 1-2 hari setelah bayi dilahirkan dan dilakukan 2 hari sekali. Agar tujuan perawatan dapat tercapai, bidan melakukan perawatan ppayudara. Mengupayakan tangan dan putting susu tetap bersih, jangan mengoleskan krim, minyak, alcohol atau sabun pada putting susu.
3.    Bantu ibu pada waktu pertama kali menyusui
Segera susui bayi maksimal setengah jam pertama setelah melahirkan. Hal ini sangat penting apakah bayi akan mendapat cukup ASI atau tidak. Ini didasari oleh peran hormone pembuat ASI, antara lain hormone prolaktin dalam peredaran darah ibu akan menurun setelah satu jam persalinan yang disebabkan oleh lepasnya plasenta.
Sebagai upaya untuk tetap mempertahankan prolaktin, isapan bayi akan memberikan rangsangan pada hipofisis untuk mengeluarkan hormon oksitosin. Hormone oksitosin bekerja merangsang otot polos untuk memeras ASI yang ada pada alveoli, lobus serta duktus yang berisi ASI yang dikeluarkan melalui putting susu.

Posisi menyusui yang benar
1.    Berbaring miring
2.    Duduk
3.    Bayi harus ditempatkan dengan ibunya dikamar yang sama (rawat gabung / roming in).

Tujuan rawat gabung :
1.    Agar ibu dapat menyusui bayinya sedini mungkin, kapan saja dan dimana saja dan dapat menunjukkan tanda-tanda yang menunjukkan bayi lapar
2.    Ibu dapat meelihat dan memahami cara perawatan bayi secara benar yang dilakukan oleh bidan, serta mempunyai bekal ketrampilan merawat bayi setelah ibu pulang kerumahnya.
3.    Dapat melibatkan suami/keluarga klien secara aktif untuk membantu ibu dalam menyusui dan merawat bayinya.
4.    Memberikan ASI pada bayi sesering mungkin
Menyusui bayi secara tidak dijadwal (on demand), karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusuibayinya bila bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing, dll) atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara kekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam.
Menyusui yang dijadwalkan akan berakibat kurang baik, karena isapan sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui tidak dijadwal sesuai kebutuhan bayi, akan mencegah banyak masalah yang mungkin timbul.

Bagi ibu menyusui yang bekerja:
1.    Susui bayi sesering mungkin selama ibu cuti bekerja, minimal 2 jam sekali
2.    Susuilah bayi sebelum berangkat kerja dan segera setelah ibu tiba dirumah
3.    Selama ditempat kerja, ASI selalu dikeluarkan, lalu dimasukkan kedalam wadah yang bersih dan tertutup kemudian simpan dalam lemari es atau termos es. Berikan pada bayi dengan sendok kecil.
4.    Ibu harus cukup istirahat dan banyak minum dan makan makanan yang bergizi agar ASI lancer.
5.    Hanya berikan kolostrum dan ASI saja
6.    Hindari susu botol dan dot empeng

ASI dan kolostrum adalah makanan terbaik bagi bayi. Kolostrum dikeluarkan pada hari pertama setelah persalinan, jumlah kolostrum akan bertambah dan mencapai komposisi ASI sekitar 3-14 hari.Bayi yang menggunakan susu botol dan kempengan biasanya akan mengalami bingung putting.



Kebiasaan ini akan membentukpribadi anak menjadi malas dan kurang berusaha.
1.    Manfaat Pemberian ASI
2.    Bagi Bayi
3.    Dapat membantu memulai kehidupannya dengan baik.
4.    Mengandung antibody
5.    ASI mengandung komposisi yang tepat
6.    Memberi rasa nyaman dan aman pada bayi dan adanya ikatan antara ibu dan bayi
7.    Terhindar dari alergi
8.    ASI meningkatkan kecerdasan bagi bayi
9.    Membantu perkembangan rahang dan merangsang pertumbuhan gigi
10.  Bagi Ibu
11.  Aspek Kontrasepsi
12.  Aspek Kesehatan Ibu
13.  Aspek Penurunan berat badan
14.  Aspek Psikologis
15.  Bagi Keluarga
16.  Aspek Ekonomi
17.  Aspek Psikologi
18.  Aspek Kemudahan
19.  Bagi Negara
20.  Menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi
21.  Menghemat devisa Negara
22.  Mengurangi subsidi untuk rumah sakit
23.  Meningkatkan kualitas generasi penerus
1.    Komposisi Gizi dalam ASI
2.    Laktosa- 7gr/100ml
3.    Lemak- 3,7-4,8gr/100ml
4.    Oligosakarida- 10-12 gr/ltr
5.    Protein- 0,8-1,0gr/100ml.
1.    Komposisi Zat Gizi Kolostrum, ASI dan PASI

Kandungan zat gizi dalam kolostrum, ASI dan PASI (pengganti air susu ibu) memiliki komposisi yang berbeda. Kandungan protein dalam kolostrum jauh lebih tinggi dari pada ASI. Hal ini menguntungkan bayi yang baru lahir karena dengan mendapat sedikit kolostrum ia sudah mendapat cukup protein yang dapat memenuhi kebutuhan bayi pada minggu pertama.

1.    Karbohidrat
Karbohidrat dalam ASI berbentuk laktosa yang jumlahnya berubah-ubah setiap hari menurut kebutuhan tumbuh kembang bayi. Rasio jumlah laktosa dalam ASI dan PASI adalah 7:4 sehingga ASI terasa lebih manis dibandingkan dengan PASI.Hal ini menyebabkan bayi yang sudah mengenal ASI dengan baik cenderung tidak mau minum PASI. Dengan demikian pemberian ASI akan semakin sukses.
2.    Protein
Protein dalam ASI lebih rendah dibandingkan dengan PASI. Namun demikian protein ASI sangat cocok karena unsur protein didalamnya hampir seluruhnya terserap oleh sistem pencernan bayi yaitu protein unsur whey. Perbandingan protein unsur whey dan casein adalam ASI adalah 80:40, sedangkan dalam PASI 20:80.Artinya protein pada PASI hanya sepertiganya protein ASI yang dapat diserap oleh sistem pencernaan bayi dan harus membuang dua kali lebih banyak protein yang sukar diabsorpsi. Hal ini yang memungkinkan bayi akan sering menderita diare dan defekasi dengan feces berbentuk biji cabe yang menunjukkan adanya makanan yang sukar diserap bila bayi diberikan PASI.
3.    Lemak
Kadar lemak dalam ASI pada mulanya rendah kemudian meningkat jumlahnya. Lemak dalam ASI berubah kadarnya setiap kali diisap oleh bayi dan hal ini terjadi secara otomatis. Komposisi lemak pada lima menit pertama isapan akan berbeda dengan 10 menit kemudian, Kadar lemak pada hari pertama berbeda dengan hari kedua dan akan terus berubah menurut perkembangan bayi dan kebutuhan energi yang diperlukan. Jenis lemak yang ada dalam ASI mengandung lemak rantai panjang yang dibutuhkan oleh sel jaringan otak dan sangat mudah dicerna karena mengandung enzim lipase.Lemak dalam bentuk Omega 3, Omega 6, dan DHA yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan sel-sel jaringan otak. Susu formula tidak mengandung enzim, karena enzim akan mudah rusak bila dipanaskan. Dengan tidak adanya enzim, bayi akan sulit menyerap lemak PASI sehingga menyebabkan bayi lebih mudah terkena diare. Jumlah asam linoleat dalam ASI sangat tinggi dan perbandinganya dengan PASI yaitu 6:1. Asam linoleat adalah jenis asam lemak yang tidak dapat dibuat oleh tubuh yang berfungsi untuk memacu perkembangan sel syaraf otak bayi.
4.    Mineral
ASI megandung mineral yang lengkap walaupun kadarnya relatif rendah, tetapi bisa mencukupi kebutuhan bayi sampai berumur 6 bulan. Zat besi dan kalsium dalam ASI merupakan mineral yang sangat stabil dan mudah diserap dan jumlahnya tidak dipengaruhi oleh diet ibu.Dalam PASI kandungan mineral jumlahnya tinggi, tetapi sebagian besar tidak dapat diserap. Hal ini akan memperberat kerja usus bayi serta menganggu keseimbangan dalam usus dan meningkatkan pertumbuhan bakteri yang merugikan sehingga mengakibatkan kontraksi usus bayi tidak normal. Bayi akan kembung, gelisah karena obstipasi atau ganguan metabolisme.




5.    Vitamin
ASI mengandung vitamin yang lengkap yang dapat mencukupi kebutuhan bayi sampai 6 bulan kecuali vitamin K, karena bayi baru lahir ususnya belum mampu membentuk vitamin K.

Upaya Memperbanyak ASI:

Cara meningkatkan produksi ASI dapat dilakukan dengan hal-hal sebagai berikut:
1.    Melakukan persiapan menyusui saat ibu sedang hamil
2.    Susuilah bayi segera setalah bayi lahir
3.    Susuilah bayi sesering mungkin. Semakin sering bayi menghisap puting susu, semakin banyak ASI yang keluar.
4.    Susuilah bayi dari kedua payudara yang kiri dan kanan secara bergantian pada setiap kali menyusui
5.    Jangan memberikan makanan dan minuman lain selain ASI sampai dengan usia bayi 6 bulan
1.    Tanda Bayi Cukup ASI
2.    Jumlah BAK dalam 1 hari paling sedikit 6 kali
3.    Warna air seni tidak berwarna kuning pucat
4.    Bayi sering BAB berwarna kekuningan berbiji
5.    Bayi kelihatan puas, sewaktu waktu merasa lapar bangun dan tidur dengan cukup
6.    Bayi paling sedikit menyusu 10 kali dalam 24 jam
7.    Payudara ibu terasa lembut setiap kali selesai menyusui
8.    Ibu dapat merasakan rasa geli karena aliran ASI setiap bayi menyusu
9.    Ibu dapat mendengar suara menelan ketika bayi menelan ASI
10.  Berat badan bayi bertambah


ASI Eksklusif:
Asi ekslusif adalah Bayi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan tanpa tambahan cairan/makanan pendamping ASI. ASI dapat diberikan sampai anak berusia 2 tahun atau lebih. dan setelah enam bulan baru didampingi dengan makanan / minuman pendamping ASI ( MPASI ) sesuai perkembangan pencernaan anak.
1.    Cara Merawat Payudara
Langkah-langkah melakukan SADARI :
1.    Dalam posisi berbaring telentang, letakkan tangan kanan di bawah kepala. Letakkan sebuah bantal kecil di bawah punggung sebelah kanan
2.    Raba seluruh bagian payudara sebelah kanan dengan menggunakan 3 ujung jari tengah yang dirapatkan
3.    Lakukan gerakan memutar dan tekanan lembut tetapi mantap. Lakukan gerakan ini mulai dari bagian pinggir searah jarum jam
4.    Ulangi gerakan serupa pada payudara sebelah kiri. Rasakan dan perhatikan dengan seksama, apabila muncul benjolan yang mencurigakan
5.    Tekan pelan-pelan daerah di sekitar puting. Perhatikan, apakah puting mengeluarkan cairan yang tidak normal
6.    Dalam posisi berdiri dan lengan lurus ke bawah, teliti kedua payudara di depan cermin. Perhatikan, bila ada benjolan atau perubahan bentuk payudara
7.    Angkat kedua lengan lurus ke atas. Ulangi langkah di atas.

Cara Menyusui Yang Benar
1.    Duduk dengan posisi santai, tegak lurus, punggung menyandar, dan kaki menapak dilantai
2.    Sebelum menyusui ASI dikeluarkan sedikit kemudian oleskan pada putting dan areola
3.    Gunakan bantal atau selimut untuk menopang bayi
4.    Bayi dipegang dengan satu lengan, kepala bayi diletakkan pada siku dan bokong bayi pada lengan
5.    Satu lengan bayi diletakkan dibelakang badan ibu dan yang satu didepan
6.    Perut bayi menempel badan ibu, kepala bayi menghadap payudara
7.    Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus
8.    Ibu menatap bayi dengan kasih saying
9.    Tangan kanan menyangga payudara kiri dan keempat jari serta ibu jari menekan payudara bagian atas areola
10.  Bayi diberi rangsangan  untuk membuka mulut dengan cara menyemtuh pipi bayi dengan putting susu
11.  Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan kepayudara ibu dengan putting serta areola dimasukkan kemulut bayi
12.  Melepas isapan bayi
13.  Setelah selesai menyusui ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada putting dan areola
14.  Menyendawakan bayi







Masalah Dalam Menyusui Bayi:
1.    Putting susu datar/tenggelam
Cara mangatasinya: Puting susu ditarik-tarik sampai menonjol, kalau perlu dengan bantuan pompa susu.
2.    Puting susu lecet / nyeri
Hal ini disebabkan oleh karena posisi menyusui atau cara menghisap yang salah, puting susu belum meregang (belum siap untuk disusui), dan hisapan bayi sangat kuat.
Cara mengatasinya:
1.    Mulai menyusui pada puting yang tidak sakit. Susui sebelum bayi sangat lapar agar menghisapnya tidak terlalu kuat
2.    Perbaiki cara menghisap, bibir bayi menutupi areola diantara gusi atas dan bawah
3.    Jangan membersihkan puting dengan sabun atau alcohol
4.    Perhatikan cara melepaskan mulut bayi dari puting setelah selesai menyusui. Letakkan jari kelingking di sudut bawah
5.    Keluarkan sedikit ASI untuk dioles pada puting selesai menyusui
6.    Biarkan puting kering sebelum memakai BH
7.    Kalau lecet tidak sembuh dalam 1 minggu, rujuk ke Puskesmas
8.    Usahakan bayi menghisap sampai kebagian hitam disekitar puting (aerola).
9.    Payudara Bengkak
Sekitar hari ke 3-4 payudara sering terasa lebih penuh atau tegang disertai rasa nyeri. Cara mengatasinya:
1.    Susuilah bayi sesuai kebutuhan
2.    Susuilah bayi tanpa dijadwal sesuai kebutuhan
3.    Keluarkan ASI dengan pompa atau manual dengan tangan bila produksi ASI melebihi kebutuhan bayi
4.    Untuk mengurangi rasa sakit, kompres dengan air hangat
5.    Lakukan pengurutan mulai dari puting kearah pangkal.
6.    Radang Payudara





Terjadi pada 1-3 minggu setelah melahirkan.
Tanda-tandanya adalah:
1.    Kulit payudara tampak lebih merah
2.    Payudara mengeras
3.    Nyeri dan berbenjol-benjol


Cara mengatasinya:
1.    Tetap menyusui bayi
2.    Bila disrtai demam dan nyeri dapat diberi obat penurun demam dan menghilangkan rasa nyeri
3.    Bila belum berhasil segera rujuk ke Puskesmas
4.    Lakukan perawatan payudara secara baik dan teratur
5.    Mastitis/ abses payudara
Abses pada payudara disebabkan karena radang payudara. Untuk sementara payudara yang abses tidak dipakai untuk menyusui. Rujuk ke Puskesmas. Setalah sembuh bayi dapat menyusui kembali.
6.    Bingung Putting
Bila ibu bekerja atau karena sesuatu hal bayi terpaksa diberikan susu buatan, berikan dengan sendok, jangan dengan dot susu botol karena menyusui dari dot berlainan dengan puting ibu. Ini untuk menghindari agar bayi tidak bingung puting. 















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

Dalam materi ini sangat penting bagi mahasiswa kebidanan untuk mengetahui proses laktasi dan menyusui. Laktasi adalah keseluruhan proses menyusui mulai dari ASI diproduksi sampai proses bayi menghisap dan menelan ASI. Laktasi merupakan bagian integral dari siklus reproduksi mamalia termasuk manusia. Masa laktasi mempunyai tujuan meningkatkan pemberian ASI eklusif dan meneruskan pemberian ASI sampai anak umur 2 tahun secara baik dan benar serta anak mendapatkan kekebalan tubuh secara alami.
1.    Saran
Dalam Makalah ini terdapat penjelasan tentang “Proses Laktasi Dan Menyusui” berharap agar mahasiswi dapat mengetahui anatomi dan fisiologi payudara, dukungan bidan dalam pemberian ASI, manfaat pemberian ASI, upaya memperbanyak ASI, tanda bayi cukup ASI, ASI eksklusif, cra merawat payudara, cara menyusui yang benar serta masalahnya sesuai dengan pembahasan yang ada dalam makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati, Eny Retna. 2009. Asuhan Kebidanan Nifas. Mitra Cendikia
Press. Jogjakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tanda - Tanda Bahaya Kehamilan pada Ibu Hamil Trimester 1,2,3

Tanda - Tanda Bahaya Kehamilan pada Ibu Hamil Trimester 1,2,3 Kebutuhan Pengetahuan Tentang Tanda - Tanda Bahaya Kehamilan pada Ibu ...